Pagi-pagi buta sehabis subuh kami sudah berankat konvoi dua mobil , satu mobil bag terbuka bawa sepeda dan satu mobil lagi minibus untuk goweser .
Mobil meluncur mulus ke titik kumpul di pom bensin setelah pintu toll Cileunyi Bandung , dan sepertinya kami datang duluan karena belum terlihat rekan-rekan goweser SEMUT .Setelah menunggu sekitar 45 menit ahirnya mereka datang dengan dua mobil pula seperti kami.
Sambil loading sepeda Om Farid salah satu punggawa SEMUT yang kebetulan kediaman beliau tidak jauh dari lokasi pom bensin ini ,serabi anget nan super dibawanya untuk kami semua , otomatis tanpa malu-malu serabi khas kota Bandung ini jadi penganjal perut kami yang sudah keroncongan .
Dari titik kumpul ini akhirnya kami konvoi total ada empat mobil menuju Gunung Tangkuban Perahu dimana di situ kawasan DH Cikole berada.
Seteleh sekitar satu jam perjalanan konvoi ini ahirnya sampailah kami di kawasan DH Cikole. Memang luar biasa kawasan DH Cikole ini walau matahari bersinar cerah tapi hawa sejuk menyelimuti kawasan ini.
Setelah sebelumnya tadi dari pintu gerbang jalan menanjak , berkelok dan berbatu-batu karena sebagian badan jalan banyak yang rusak terkena gerusan air hujan dari atas gunung.
Satu persatu sepeda kami unloading dari mobil sekaligus kami prepair untuk menghadapi trek yang berat dan terus terang trek DH Cikole ini bagi GOPAT sangat awam sekali , karena biasanya kami sering gowes di jalur-jalur XC.
Sebelum kami mencicipi trek Cikole,terlebih dahulu kami di breaving oleh Om Farid terntang trek yang akan kita hadapi nanti , terutama tips-tips bersepeda yang aman pada jalur-jalur yang extrim seperti trek DH Cikole,karena acara gowes kali ini akan melibas tiga trek sekaligus yaitu trek DH Cikole , DH Mini dan trek tertahir sambil pulang ke rumah Om Farid kami akan melewati trek All Mountain yang posisi startnya berada diatas DH Mini.
Ahirnya trek pertama dapat dilibas dengan aman , walau trek DH Cikole ini sangat bahaya terutama bagi pemula seperti kami ini.Skill yang minim dan spek sepeda yang sebenarnya tidak cocok untuk trek DH namun hanya kehati-hatian dan bisa mengukur kemampuan diri tentu akan membawa kita kedalam sesuatu yang lebih baik. Dan tentunya juga karena modal nekat lha wong sudah sampai Cikole masak apa mau pulang lagi lantaran sepeda kurang kompetible dengan trek DH.
Dari trek DH Cikole kami istirahat beberapa menit untuk mengatur nafas karena benar-benar baru saja kami libas trek yang sangat bikin syok dan memacu jantung serta andrenalin kami . Setelah beberapa waktu berlalu ahirnya kami lanjut trek berikutnya yang berada di bawah trek DH Cikole yaitu trek DH Mini . Perbedaan antgara DH Cikole dan DH Mini adalah , DH Cikole memang skill dan nyali yang lebih dibutuhkan karena banyak jumping-jumping yang tinggi dan drof off yang dalem banget jadi bila dirasa tidak mampu ya...TTB saja . Tapi bila di DH Mini treknya banyak yang berkelok -kelok diantara pohon karet dan pinus serta banyak drof off tapi tidak terlalu dalem , jadi kebanyakan skillah yang sangat berperan disini .Walau begitu banyak diantara kami yang jatuh tersungkur karena sepeda tidak bisa dikuasai lagi.
Setelah sampai di bawah kemudian kami naik lagi ke posisi DH Mini dengan meloading sepeda ke mobil , namun hanya satu goweser saja yang mampu dari bawah naik ke DH Mini tanpa di loading yaitu Om Muhsin bersama United Patrolnya , memang hebat Om Muhsin ini karena sebelumnya dari GOPAT ada empat orang yang ingin ikuti jejaknya namun dengkulnya keburu lemes di tengah jalan sebelum sampai di DH Mini, siapa itu orangnya ? silahkan tanya Om Wawan pasti tahu
.
Sampai di DH Mini kami istirahat sebentar untuk makan siang ( ISOMA ) , dan selanjutnya kami loading lagi naik menuju trek All Mountain sekaligus sebagai trek terahir menuju rumah Om Farid.
Dari jalur masuk trek All Mountain ini kami agak menunggu sebentar karena rupanya jalur masuk ini juga sebagai jalur keluar masuk motor gunung jadi kami harus bergantian untuk melaluinya.
Jarak sekitar satu kilo dari pintu trek All Mountain ternyata di situlah ada bascamp para pengendara motor tadi . Dan terus terang selama satu kilo yang kita lalui tadi treknya jadi rusak karena banyak lobang-lobang panjang bekas ban motor sehingga menyulitkan kami untuk melaluinya , dan mau gak mau yah...TTB alias dorong .
Suasana trtek All Mountain ini cukup asyik juga ,sejuk, rindang dengan kanan-kiri ditumbuhi pohon pinus, tapi jangan sampai lengah karena dibawah ada akar-akar pinus yang bisa bikin kita terpeleset dan terbanting, belum lagi sebenarnya yang kita jadikan jalur atau jalandi trek All Mountain ini juga sebagai jalur air menuju ke bawah gunung, jadi harus maklum bila jalur yang kita lewati kadang ada lobang panjang dan dalam .
Nah lobang-lobang seperti foto di atas banyak sekali kita jumpai di trek ini , dan keadaan makin menyulitkan saat kami sudah mendekati pinggiran hutan yang berbatasan dengan kampung terdekat , disitu ada pipa untuk jaringan air bersih warga ,dan disepanjang jalur itu yaitu jalan yang kita lewati pula banyak ditumbuhi lumut jadi licin sekali , jangankan digoes dituntun saja kita sering terjatuh , tak tahu sudah berapa kali kita pada terjatuh , maka terus terang untuk jalur ini kami kurang menikmati karena kita banyak trefokus pada jalan yang licin itu, jadi keindahan alam sekitar kurang bisa kami nikmati.
Setelah dirasa cukup istirahat kemudian kami meluncur menuju arah boscha , cuaca semakin mendung dan gerimis kecilpun mulai membasahi tubuh dan jalan yang kita lewati ,waduh.... makin licin saja jalur ini.
Menjelang puncak Boscha saat tanjakan berkelok rantai sepedaku putus , untung ada Om Zakkir ahirnya sepeda dapat digowes lagi dengan lancar .
Selepas berfoto ria di puncak boscha kamipun bergegas turun karena rintik-rintik gerimis mulai turun lagi.
Baru sekitar dua ratus meter kami berjalan kini giliran rekan kami dari SEMUT rantai sepedanya putus juga , tapi tak masalah ada ahlinya dengan peralatan yang komplit masalah dapat diatasi dengan baik.
Ahirnya apa yang kami takutkan terjadi juga , Om Wahyu Andrian saat melintas di turunan yang licin terpeleset dan masuk jurang bersama sepedanya, aku yang saat itu yang persis berada di belakangnya langsung lompat kulempar sepeda dan lari mendekati korban seraya minta bantuan Om Mariyoto yang brerada di belakang sersama rekan-rekan yang lain, namun alhamdulillah trernyata Om Wahyu selamat karena saat jatuh sempat meraih rumput dan semak-semak di pinggir jurang dan kebetulan juga jurangnyapun berundak sehingga Om Wahyu tertahan di undakan paling atas , Om Mariyoto aku minta turun untuk mendorong dari bawah , sedang aku menariknya dari atas. Nampaknya tangan serta pinggang sebelah kanan terkilir , yah...hanya pertolongan pertama yang dapat kami berikan , untuk selanjutnya setelah sampai di bawah akan langsung dibawa ke tukang urut di dekat Cileunyi Bandung, sehingga aku sempat bertukar sepeda karena sepeda DHya tidak muat masuk mobil sedang punyaku XC jadi muat. Baru ini nih...naik sepeda DH yang mahal .
Dengan kejadian tadi kami makin hati-hati dalam melintas melewati jalan yang extrim ini.
Tepat selepas magrib menjelang isyak kami sampai di Cileunyi kediaman Om Farid sebagai ahir acara gowses kali ini .
Terimakasih Om Farid, Om Wahyu Andrian dan semua punggawa serta anggota SEMUT yang tidak bisa kami sebut satu persatu yang telah mengundang dan menjamu kami dengan sangat baik.
